Galery

Galery
Keluarga baruku mengantarkan kebahagian ku

Minggu, 17 Januari 2016

Keluarga Besarku

Sebuah kebersamaan yang kita lalui bersama menjadi sebuah keluarga besar yang sangat berarti dalam kehidupan ini. meskipun kita berlatar belakang berbeda ini tak menjadikan masalah untuk persahabatan ini. motivasi,support yang kalian berikan sangat berharga.semoga ikatan keluarga ini tetap terjaga hingga akhir nanti. Amin..... Sukses selalu untuk kalian ,.

Minggu, 13 Desember 2015

Artikel Ilmiah (Semoga Bermanfaat)



PENANGGULANGAN PERILAKU MENYIMPANG MENGGUNAKAN METODE PSIKOLOGI
Disusun oleh: Lailatul Chodriyah(15720011)
Mahasiswa Prodi Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

ABSTRAK

Perilaku menyimpang adalah salah satu perilaku yang terjadi dimasyarakat baik itu dilakukan secara individu ataupun kelompok didalam masyarakat tersebut. Sebelum membahas mengenai pokok permasalahan dan solusinya,kita harus faham dulu mengenai arti sebenarnya mengenai masyarakat. Masyarakat adalah sekumpulan individu yang terbentuk dalam satu kelompok baik itu jumlah kecil maupun jumlah banyak yang menjalankan sebuah sistem dan akan terbentuk sebuah norma,nilai,serta adat istiadat. Pokok perilaku menyimpang dari individu atau masyarakat terbentuk dengan sendirinya dari bagaimana cara mereka bergaul satu sama lain,dan perilaku semacam ini akan selalu membekas didalam fikiran bawah sadar utamanya anak-anak dan lama kelamaan akan menjadi kebiasaan anak tersebut tanpa mereka sadari telah melakukan berulang kali dan menjadi sebuah kebiasaan buruk. Dalam artikel ini akan membahas beberapa metode menggunakan pendekatan psikologi sehingga dapat meminimalisir dampak dari tindakan tersebut serta memberikan pendidikan untuk yang belum terjerumus kedalam lubang yang sama, sehingga akan tumbuh bibit-bibit pemimpin masa depan yang luar biasa. Nah, metode psikologi adalah salah satu cara yang sangat tepat untuk diterapkan pada realitas sekarang ini. Melihat beberapa survey sangat memiriskan hati kecil ini, melihat beberapa kasus yang terjadi. Semoga dengan munculnya artikel ini dapat membantu masyarakat untuk meningkatkkan kualitas sumberdayanya.

Kata Kunci: Individu,Perilaku,Metode




 

A.   Latar Belakang
            Dizaman era modern ini banyak sekali orang yang sudah melupakan norma dan melalaikan apa yang sudah menjadi tradisi dimasyarakat tersebut.Sehingga banyak terjadi kasus penyimpangan di seluruh negeri ini.Sampai saat ini pun masih juga terjadi,dan kebanyakan penyimpangan ini dilakukan anak remaja kisaran usia 13/14-17 tahun.Nah,Para ahli berpendapat bahwa perkembangan individu itu melalui taraf-taraf dan fase/fase tertentu yang mempunyai spesifikasi masing masing.Masa remaja merupakan masa perkembangan kematangan fisik,kemudian diikuti masa kematangan emosi dan diakhiri oleh perkembangan intelek[1].
            Terlihat jelas dalam fase tersebut individu sangat mengunggulkan emosi tanpa menggunakan akal fikirannya dan hanya menuruti nafsu saja.Baru-baru ini telah ditangkap tiga orang di pekan baru,Sumatra Selatan dengan kasus narkoba[2],Kasus penganiayaan diwarga binaan di Lapas Kelas IIB Meulaboh dipicu perilaku korban yang dinilai arogan saat mengetuk pintu lapas dan masih banyak lagi.Maraknya perilaku-perilaku seperti inilah yang menjadikan penurunan pemuda bangsa baik intelektual maupun moralitasnya.Melihat kemirisan tersebut penulis akan memberikan cara untuk penanggulangan menurut kacamata psikologi. Dalam psikologi ada tiga tindakan jitu yang dapat mengurangi perilaku tersebut diantaranya melalui tindakan preventif,tindakan represif,tindakan kuratif[3].
Adapun” tindakan prefentif” yakni segala tindakan yang bertujuan mencegah timbulnya kenakalan-kenakalan. Dalam tindakan ini akan dilakukan usaha untuk mengenal mengetahui ciri umum dan khas remaja,mengetahui kesulitan-kesulitan yang secara umum dialami oleh para remaja.Kesulitan manakah yang biasanya menjadi sebab timbulnya penyaluran dalam bentuk kenakalan.langkah selanjutnya adalah mengadakan pembinaan,dalam tindakan ini diharapkan para individu akan mengembangkan diri secara baik sehingga keseimbangan diri akan dicapai dimana tercipta hubungan yang serasi antara aspek rasio dan aspek emosi.
”tindakan represif”yakni tindakan untuk menindas dan menahan kenakalan remaja seringan mungkin atau menghalangi timbulnya peristiwa kenakalan yang lebih hebat. “tindakan kuratif dan rehabilitasi” yakni memperbaiki akibat perbuatan nakal,terutama individu yang telah melakukan perbuatan tersebut.Diharapkan dengan beberapa cara tersebut dapat meminimalisir maraknya perilaku menyimpang dikalangan masyarakat.
B.   KajianTeori
Perilaku menyimpang adalah perilaku yang dinilai kurang pantas berada didalam masyarakat misalnya: tawuran antar pelajar, narkotika, minum-minuman keras, pertikaian, konflik antar suku, tindak kriminal,dll. Perilaku ini biasa terjadi disemua lapisan masyarakat mulai dari remaja,orang dewasa, orang tua, hingga terjadi dikalangan orang berpendidikan .
Menurut Paul B. Horton, penyimpangan sosial memiliki enak ciri-ciri antara lain sebagai berikut:Pertama,Penyimpangan harus dapat didefinisikan Tidak ada perbuatan yang terjadi begitu saja dinilai atau dianggap menyimpang. Perilaku mnyimpang bukanlah hanya dari ciri tindakan yang dilakukan orang, melainkan akbiat dari adanya peraturan dan penerapan sanksi yang dilakukan oleh orang lain terhadap perilaku tersebut.Kedua,Penyimpangan bisa diterima atau bisa juga ditolak.Tidak semua perilaku menyimpang negatif, ada juga yang diterima bahkan diputih dan dihormati seperti orang genius yang menyampaikan pendapat baru yang bertentangan dengan pendapat umum. Sedangkan perampokan, pembunuhan, dan menyebarkan teror bom atau gas beracun termasuk penyimpangan yang ditolak masyarakat.
Keiga,Penyimpangan relatif dan penyimangan mutlak.Di dalam satu masyarakat tidak ada seorang pun yang termasuk dalam kategori sepenuhnya penurut (konformis) ataupun spenuhnya. Pada dasarnya semua orang normal pasti pernah melakukan tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku, namun terdapat batas-batas tertentu yang bersifat relatif untuk setiap orang. Seperti halnya tidak ada seorang pun yang setiap perbuatannya menyimpan di norma-norma yang berlaku. Perbedaannya ada di seberapa sering (frekuensi) dan kadar penyimpangannya saja. Meskipun ada orang yang sering sekali melakukan penyimpangan sosial (penyimpang mutlak), lambat laun dia juga harus berkompromi dengan lingkungannya.
Keempat,Penyimpangan terhadap budaya nyata atau budaya ideal.Budaya ideal disini adalah seluruh peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok masyarkat. Namun, dari kenyataannya, tidak orang yang patuh dari seluruh peraturan resmi. Antara budaya nyata dan budaya ideal selalu terjadi kesenjangan. Artinya, peraturan yang telah menjadi pengetahuan umum di kehidupan sehari-hari yang cenderung banyak dilanggar.Kelima,Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan sosial.Jika suatu masyarakat terdapat nilai atau norma yang melarang suatu perbuatan ingin sekali diperbuat oleh banyak orang, akan muncul norma-norma pengindaran. Norma pengindaran adalah pola perbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan mereka tanpa hrus dengan menentang nilai-nilai dengan tata kelakuan secara terbuka. Jadi, norma-norma yang sifatnya setengah melembaga(semi institutionalized).  
Keenam,Penyimpangan sosial bersifat adaptif (menyesuaikan).Penyimpangan sosial tidak selalu sebagai ancaman karena biasanya dianggap sebagai alat pemelihara ketenangan atau ketentraman sosial. Di satu pihak, masyarakat memerlukan keteraturan dan kepastian dalam kehidupan.
Menurut survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2012, bahwa persentase penduduk provinsi NTT berumur 10 tahun ke atas menurut jenis kelamin dan ijazah tertinggi yang dimiliki dapat kita lihat sesuai tabel berikut.

 Sumber : Survey Sosial Ekonomi Nasional tahun 2012[4]
Dari sample ini dapat disimpulkan bahwa masih rendah pendidikan yang ada di indonesia utamanya daerah bagian timur sehingga banyak terjadi perilaku menyimpang. Dari tingkat pendidikan kita dapat membaca perilaku menyimpang yang terjadi.
Jenis-Jenis Penyimpangan Sosial/Perilaku Menyimpang:
  1. Jenis-Jenis Penyimpangan Sosial Berdasarkan Kekerapananya
Penyimpangan Sosial Primer: Pengertian penyimpangan sosial primer adalah penyimpangan yang bersifat sementara (temporer). Orang yang melakukannya masih tetap dapat diterima oleh kelompok sosialnya karena tidak terus menerus melanggar aturan. Seperti biasanya melanggar rambu lalu lintas atau pernah meminum minuman keras di suatu pesta. 
Penyimapangan Sosial Sekunder: Pengertian penyimpangan sosial sekunder adalah penyimpangan sosial yang dilakukan oleh pelakunya secara terus menerus walaupuntelah diberikan sanksi-sanksi. Oleh karena itu, setiap pelaku secara umum dikenal sebagai orang yang berperilaku menyimpang. Seperti, seseorang yang setiap hari minum minuman keras, siswa SMA/MA yang terus menyontek teman kelasnya. 
b. Jenis-Jenis Penyimpangan Sosial Berdasarkan Jumlah Orang Yang Terlibat
Penyimpangan Individu: Pengertian penyimpangan individu adalah penyimpangan yang dilakukan sendiri tanpa dengan orang lain. Hanya satu individu saja yang melakukan belawanan dengan norma-norma yang berlaku.Penyimpangan Kelompok: Pengertian penyimpangan kelompok adalah penyimpangan yang terjadi jika individu perilaku menyimpang tersebut dilakukan secara bersama-sama di suatu kelompok tertentu. 
c. Jenis-Jenis Penyimpangan Sosial Berdasarkan Sifatnya
Penyimpangan Bersifat Negatif: Pengertian penyimpangan bersifat negatif adalah penyimpangan sosial yang berwujud dari tindakan ke arah nilai-nilai sosial yang dianggap rendah dan tercela karena tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku.Penyimpangan Bersifat Positif: Pengertian penyimpangan bersifat positif adalah penyimpangan sosial yang memiliki dampak positif terhadap sistem sosial karena dianggap ideal dalam masyarakat. 

Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Menyimpang

Faktor Internal: Penyebab perilaku menyimpang dalam faktor internal adalah intelegensi atau tingkat kecerdasan, usia, jenis kelamin dan kedudukan seseorang dalam keluarga. Contohnya: seseorang ang tidak normal dan pertambahan usia.Faktor Eksternal: Penyebab perilaku menyimpang dalam faktor eksternal adalah kehidupan rumah tangga, atau keluarga, pendidikan di sekolah, pergaulan dan media massa. Contohnya: seorang anak yang biasa melihat orang tuanya bertengkar dapat melarikan diri pada obat-obatan, atau narkoba. Pergaulan individu yang berhubungan dengan teman-temannya, media massa, media cetak, media eletkronik. 

Pencegahan dalam terjadi perilaku penyimpangan sosial dilakukan seseorang agar tidak berada dalam penyimpangan sosial yang lebih merugikan atau bersifat negatif. Faktor-faktor pencegahan dalam perilaku penyimpangan sosial adalah sebagai berikut:
Faktor Keluarga: Pencegahan penyimpangan sosial dalam faktor keluarga adalah merupakan awal dari proses sosialisasi dalam pembentukan kepribadian seseorang. Kepribadian seseorang mulai terbentuk dengan baik jika lahir dan tumbuh berkembang dengan lingkungan keluarga yang baik, begitu juga dengan sebaliknya.Faktor Sekolah: Pencegahan penyimpangan sosial dalam faktor sekolah adalah tempat menimba ilmu yang memberikan pendidikan moral selain dari pendidikan umum. Faktor Lingkungan dan Teman: Pencegahan penyimpangan sosial dalam faktor lingkungan dan teman adalah tempat yang sangat mempengaruhi watak seseorang karna dalam pergaulan seseorang dituntut agar dapat berdaptasi/menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal dan temannya. Faktor Media Massa: Pencegahan penyimpangan sosial dalam faktor media massa adalah suatu wadah sosialisasi yang mempengaruhi kehidupan seseorang. Maka setiap orang harus dapat memilah media massa yang berisi informasi yang baik dan bersifat positif untuk terhindari dari penyimpangan sosial[5]
            Penanganan perilaku menyimpang menggunakan tindakan psikologi sangat banyak.
Seperti yang diungkapkan Rogers{Adams & Gullota,983: 56-57} ada lima ketentuan yang harus dipenuhi untuk membantu remaja yaitu: kepercayaan,kemurnianhati,kemampuan mengerti&menghayati,kejujuran,mengutamakan presepsi remaja sendiri[6].
            Selain itu juga perlu dilakukan pembimbingan terhadap remaja diantaranya: Melaksanakan pendidikan agama dan pembinaan akhlaq,Meningkatkan pengertian remaja akan dirinya,Menciptakan hubungan baik dengan orang tua,Bimbingan kearah hari depan yang lebih baik,Bimbingan hidup masyarakat[7]. Disamping perhatiannya terhadap masalah sosial, ekonomi dan politik dalam Negara juga meningkat,  karena kemampuan nya untuk berfikir logis-rasionil telah matang, pelajaran yang didapatnya di sekolah sudah cukup kuat untuk mendorongnya kepada lebih memperhatikan apa saja yang terjadi dalam masyarakat[8].
Adapun pendekatan psikologi yang digunanakan dalam treatmen adalah perubahan dalam perilaku eksternal dapat memicu perubahan internal. Suatu lingkaran pengalahan dari pada sikap-sikap dan perilaku negative dapat dihilangkan dengan pelatihan yang lebih menekankan pada perilaku yang penuh keterampilan, dengan pengalaman positif yang menggantikan presepsi diri dan mengubah pola pikiran negatif.  Peningkatan kondisi terpelihara dengan baik setelah treatmen jika orang mengatribusikan peningkatan mereka pada faktor-faktor internal dibawah pengenendalian yang berkelanjutan daripada hanya pada program treatmen itu sendiri. Para pekerja kesehatan mental juga mendasarkan perubahan sikap dan perilaku klien dengan persuasi. Para terapis membantu untuk menstimulasi pemikiran yang lebih sehat dengan menawarkan argument-argumen persuasive yang rasional dan memunculkan pertanyaan[9]. Social facilitation tidak hanya bersifat sosial,namun pada makhluk non sosial pun dapat terjadi, karena kehadiran orang lain secara tidak langsung akan memengarui perfoma. Namun menurut hasil penelitian lain, mengatakan bahwa efek social facilitation hanya akan muncul jika seseorang hadir tersebut memiliki karakteristik tertentu.

Terdapat dua variasi dari konsep Zajonc,yaitu:
1.      Evaluation apprehension
Menurut perspektif ini, peningkatan atau pun penurunan pereforma dapat terjadi jika kehadiran seseorang berfungsi untuk melakukan evaluasi terhadap performa tersebut. Ketika seseorang bekerja sendiri dibandingkan dengan orang lain yang bekerja dibawah pengawasan,ternyata seseorang yang bekerja dibawah pengawasan cenderung menunjukkan respons dominan.Namun apabila pengawas tersebut blindfolded, maka frekuensi kecenderungan untuk menunjukkan respon dominan mirip ketika seorang bekerja sendiri.
2.      Distraction
Pendekatan lain dalam melihat social facilitation adalah melalui distraction conflict theory. Teori ini memandang bahwa kita cenderung memandang bahwa kita mengalami distraksi atau pun terganggu ketika sedang menyelesaikan tugas-tugas yang membutuhkan banyak konsentrasi (Baron,1986). Perhatian kita terpecah antara tugas yang sedang dilakukan dengan pendekatan lain yang mengganggu. Konflik dalam membagi perhatian ini menyebabkan kesiagaan kita meningkat.Teori ini menyatakan bahwa social facilitation tidak selalu bersifat sosial[10].
Konflik apapun bentuk dan sumbernya, memerlukan penanganan yang tepat. Adapun menangani konflik antar kelompok adalah”
1.      Solusi Struktural
Konflik yang muncul karena dilemma social memerlukan solusi structural termasuk pembatasan penggunaan sumberdaya yang menjadi sumber konflik dengan menggunakan surat/kartu ”izinguna”, membatasi jumlah yang dapat digunakan, dengan menentukan kuota.  Atau dengan menunjuk individu atau kelompok tertentu sebagai pengelola sumber daya, yang berfungsi memfasilitasi komunikasi antara kelompok-kelompok yang bertikai. Individu/kelompok akan menentukan hak guna lebih besar apabila kelompok bersedia untuk bekerjasama, dibandingkan dengan apabila mereka bertikai.
2.      Mengurangi frustasi
Meskipun frustasi tidak selalu mengakibatkan tindak kekerasan, namun ada dua kondisi yang mendorong individu menjadi agresif,yakni apabila individu mengalami keadaan frustasi luar biasa (Haris,1974 dalam Baron & Byron 1977) dan penyebab frustasi tidak masuk akal (Wavekel 1974;Zillman & Carter,1976 dalam Baron & Byron 1977). Ini berarti, segala kebijakan, perlakuan,dan tindakan yang dapat berdampak pada ketidakadilan yang selanjutnya akan memicu frustasi harus dihindari.
3.      Menciptakan tujuan luhur
Sumber utama konflik antar kelompok, menurut teori ini adalah masalah keterbatasan sumber, khususnya yang berkenaan dengan nilai(value) dan kekuasaan (power). Solusi yang ditawarkan oleh teori ini menciptakan sasaran bersama yang menuntut kerjasama atau mengandung unsur saling ketergantungan di antara pihak bertikai(super-ordinate goal).
4.      Mencairkan polarisasi in group-out group
Sebagaimana telah dikemukakan,sumber konflik antar kelompok menurut teori identitas social bukan memperebutkan sumber (resources) melainkan berkenaan dengan identitas social kelompok. Solusi yang ditawar adalah mencairkan polarisasi in group out group. Dalam hal ini, pendapat hasan (1999) mengenai modus kebersamaan kita dan kami dapat dijadikan jalan keluar dalam upaya mencairkan gejala in group out group.
5.      Mengurangi orientasi dominan
Konflik antar kelompok terjadi karena ada orientasi dominan dari para pemimpin kelompok dan kelembagaan dominasi yang disahkan. Oleh karenanya pendidikan dirumah ada disekolah hendaknya ,mencegah terbentuknya authoritarian personality (Adorno,dkk.1955).
6.      Kontak antar kelompok
Konflik antar kelompok terjadi karena adanya sikap streotipib terhadap kelompok luar negative. Sikap seperti ini ada dan tersebar dalam berbagai macam ideology sosial, serta dipertahankan karena kurangnya akses terhadap informasi yang dapat menyanggah akses tersebut.
7.      Kesamaan
Prasangka muncul karena ketidaktahunan dan anggapan bahwa terdapat perbedaan antara kelompok yang tidak akan pernah dapat menjembatani. Kontak antar kelompok dapat menunjukkan bahwa ternyata terdapat kesamaan di antara dua kelompok.
8.      Generalisasi
Metode lain dikemukakan oleh Wberdan Crocker (1983, dalamVaugh& Hogg,2000). Menurut mereka, kontak antara individu yang berbeda kelompok bertujuan untuk memperbaiki hubungan antar kelompok secara keseluruhan,tidak hanya antara individu yang bertemu. Terdapat tiga model yang dapat menjelaskan bagaimana ini dapat terjadi.
Pertama, bookkeeping, mengumpulkan semua informasi positif mengenai kelompok luar,sehingga secara perlahan-lahan akan dapat memperbaiki streotopi. Kedua, conversion, informasi yang sangat berlawanan dengan streotopi yang berlaku dapat mengubah sikap secara tiba-tiba. Ketiga, subtyping, informasi yang tidak konsisten dengan streotopi dapat menghasilkan sub-streotipi, sehingga stereotopi menjadi lebih kompleks.
9.      Pluralisme dan keberagaman
Pada dasar nya suatu kelompok terdiri berbagai macam sub kelompok. Konflik muncul ketika sebagian, atau satu kelompok,tertentu mendapatkan perhatian yang lebih sehingga, kelompok lain merasa sebagai bawahan dari kelompok tersebut.
10.  Komunikasi
Kelompok yang bertikai dapat memperbaiki hubungan dengan cara mengkomunikasi secara langsung masalah yang terjadi dan upaya untuk menyelesaikannya. Dengan kata lain, kelompok yang bertikai dapat melakukan tawar-menawar,mediasi,arbitrasi,dankonsiliasi.
11.  Tawar-menawar
Negosiasi antar kelompok biasanya dilakukan antar perwakilan dari masing-masing kelompok. Misalnya, perwakilan demonstran dengan perwakilan pemerintah. Penelitian menunjukkan bahwa, ketika individu melakukan negoisasi sebagai wakil dari kelompok, maka ia akan menawar lebih keras dan lebih sulit untuk mengalah dibandingkan apabila ia hanya mewakili dirinya sendiri. Hal ini menyulitkan negosiasi. cara yang lebih efektif adalah dengan saling mengajukan konsesi[11].
Berbagai bentuk perilaku menyimpang yang ada di masyarakat akan membawa  dampak bagi pelaku maupun bagi kehidupan masyarakat pada umumnya.
       Berbagai bentuk perilaku menyimpang yang dilakukan oleh seorang individu akan memberikan dampak bagi si pelaku. Berikut ini beberapa dampak tersebut.
a.    Memberikan pengaruh psikologis atau penderitaan kejiwaan serta tekanan mental terhadap pelaku karena akan dikucilkan dari kehidupan masyarakat atau dijauhi dari pergaulan.
              b.    Dapat menghancurkan masa depan pelaku penyimpangan.
              c.    Dapat menjauhkan pelaku dari Tuhan dan dekat dengan perbuatan dosa.
              d.    Perbuatan yang dilakukan dapat mencelakakan dirinya sendiri.
              Perilaku penyimpangan juga membawa dampak bagi orang lain atau kehidupan masyarakat pada umumnya. Beberapa di antaranya adalah meliputi hal-hal berikut ini.
a.    Dapat mengganggu keamanan, ketertiban dan ketidakharmonisan dalam masyarakat.
              b.    Merusak tatanan nilai, norma, dan berbagai pranata sosial yang berlaku di masyarakat.
              c.    Menimbulkan beban sosial, psikologis, dan ekonomi bagi keluarga pelaku.
              d.    Merusak unsur-unsur budaya dan unsur-unsur lain yang mengatur perilaku individu dalam kehidupan masyarakat.
       Dampak positif yang ditimbulkan akibat perilaku penyimpangan sosial
Menurut pandangan umum, perilaku menyimpang dianggap merugikan masyarakat baik terhadap pelaku maupun terhadap orang lain pada umumnya adalah bersifat negatif.
Akan tetapi, menurut Emile Durkheim, perilaku menyimpang juga memiliki kontribusi positif bagi kehidupan masyarakat.
Beberapa kontribusi penting dari perilaku menyimpang yang bersifat positif bagi masyarakat meliputi hal-hal berikut ini.
a.    Perilaku menyimpang memperkokoh nilai-nilai dan norma dalam masyarakat.
                     Bahwa setiap perbuatan baik merupakan lawan dari perbuatan yang tidak baik. Dapat dikatakan bahwa tidak akan ada kebaikan tanpa ada ketidak-baikan. Oleh karena itu perilaku penyimpangan diperlukan untuk semakin menguatkan moral masyarakat.
              b.    Tanggapan terhadap perilaku menyimpang akan memperjelas batas moral.
                     Dengan dikatakan seseorang berperilaku menyimpang, berarti masyarakat mengetahui kejelasan mengenai apa yang dianggap benar dan apa yang dianggap salah.
c.    Tanggapan terhadap perilaku menyimpang akan menumbuhkan kesatuan masyarakat.
                     Setiap ada perilaku penyimpangan masyarakat pada umumnya secara bersama-sama akan menindak para pelaku penyimpangan. Hal tersebut menegaskan bahwa ikatan moral akan mempersatukan masyarakat.
d.    Perilaku menyimpang mendorong terjadinya perubahan sosial.

       Para pelaku penyimpangan senantiasa menekan batas moral masyarakat, berusaha memberikan alternatif baru terhadap kondisi masyarakat dan mendorong berlangsungnya perubahan[12].



C.   Pembahasan
Mengapa sih perilaku menyimpang masih banyak terjadi dinegeri ini? Pertanyaan ini sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Jawaban yang paling tepat dan akurat ada didalam diri kita masing-masing. Karena diri kita yang bisa membatasi bagaimana bergaul dan bersosialisasi di masyarakat.
Seungguhnya perilaku sosial adalah tingkah laku individu atau sebagian kelompok yang dianggap kurang berkenan dimasyarakat. Faktor-faktor yang melatar belakangi terjadinya perilaku sosial diantaranya: pendidikan,proses sosialisasi individu,broken home,salah pergaulan dll. Dari faktor ini baik individu maupun masyarakat harus banyak berkaca dan menilai diri sendiri.faktor pendidikan yang rendah menambah data jumlah pelaku sosialsemakin besar,sebab individu akan menjadi maf’ul(pelaku)dari pada fail(yang mengorganisir)serta lebih mudah dipengaruhi dengan iming-iming uang atau pekerjaan.
Realitas yang terjadi anak terpelajar adalah banyak mengonsumsinarkoba,bergabung dengan geng motor,tawuran,pacaran dll. Hal ini disebabkan individu tersebut salah pergaulan sehingga mereka terlalu cepat dalam mengambil keputusan yang sebelumnya belum mereka ketahui sama sekali. Minimnya pengetahuan menjadikan sumber daya manusia dinegeri ini menjadi rendah dan kualitas sangat dipertanyakan? Meskipun diluar sana masih banyak orang berpendidikan mempunyai pengetahuan yang luas.
Permasalahan tidak hanya berhenti disini ditambah lagi dengan deretan keluarga yang broken home, kasus semacam ini dampaknya akan sangat jelas mengarah ke anak baik usia dini,remaja maupun dewasa. Apalagi sangat berbahaya bagi anak usia dini sebab awalnya mereka hanya memperhatikan dan merekam di dalam memorinya dan ketika dewasa ia akan condong melakukan hal-hal yang pernah ia lihat dulu dan beranggapan bahwa apa yang kedua orang tuanya lakukan adalah benar. Perlu diketahui keluarga adalah agen sosialisasi yang paling penting dimana pembentukan karekter,norma,nilai secara langsung atau tidak akan terbentuk dengan sendirinya. Didalam keluarga kita banyak diajarkan baik agama,cara bersosialisasi,adab,sopan santun,etika dll. Mengapa perlu dikenalkan sebuah agama? Sebab dalam agama sudah mengajarkan perilaku yang terpuji dan kita dapat melihat batasan-batasan dalam pergaulan selain itu akan terbentuk karakter yang agamis.
Sosialisasi tidak hanya dikeluarga saja,Namun kita sebagai makhluk sosial juga harus punya banyak teman karena kita tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Teman ini didapatkan ketika kita mengenyam pendidikan,organisasi,kegiatan masyarakat dll. Dari proses sosialisasi diluar keluarga akan timbul noma,nilai yang baru sehingga membuat individu harus beradaptasi lagi sesuai apa yang ada dalam realitas sehingga individu akan dituntut untuk lebih mandiri.
Perlu diketahui alloh menurunkan sebuah permasalahan tidak akan melebihi batas kemampuan makhluknya. Perilaku menyimpang dapat diminimalisir sejak dini sebelum memperbanyak daftar akumulasi. Caranya mulai dari lingkup kecil atau keluarga harus memberikan contoh yang baik dan pengajaran untuk anak-anak setelah masa remaja orang tua harus lebih ekstra memberikan pengawasan pada anak dan orang tua menjadi seorang fasilitator untuk anaknya. Sehingga anak akan merasa nyaman dan mendapatkan sebuah kepercayaan atau amanat yang telah diberikan kedua orang tuanya.
Peran pendidikan dalam meminimalisir perilaku menyimpangdengan memberikan pengajaran serta aktifitas-aktifitas positif yang bisa diikuti oleh individu tersebut.diantaranya ekstra kurikuler sekolah diantaranya: OSIS, Pramuka,Pmr,Paskibraka,Hadroh,Tilawah,Jurnalistik dll. Harapanya individu dapat mengmbangkan bakat yang sudah dimiliki dan sebagai bekal untuk kehidupan nantunya. Manfaatnya individu akan tertarik dengan hal-hal yang positif begitu pula tempat bersosialisasinya juga positif sehingga individu akan cenderung bersikap positif pula. Dan sebaliknya jika individu bergabung dalam hal-hal yang negatif maka perilakunya akan dipengarui hal-hal negatif.
Lingkungan juga sangat menentukan perilaku anak tergantung dimana ia berada dan dapat menempatkan dirinya. Seperti halnya dimasyarakat sekarang sudah ada lembada swadaya masyarakat(LSM),Karang Taruna, yang pada dasarnya mempunyai tujuan dan manfaat yang sama.
Didalam lembahga ini menguji konsistensi dari individu,sehingga individu dapat memberikan kontribusi untuk masyarakat dan lingkungan nya. Bagaimana caranya? Individu diajari untuk selalu berfikir kreatif,inovatif, sehingga mampu bersaing dilingkungan maupun diluar lingkungan. Kegiatan ini juga akan meminimalisir perilaku sosial dan dapat mencetak sumber daya manusia yang unggul,kreatif,inovatif dan berdaya saing tinggi. Sehingga tidak takut lagi dalam menghadapi persaingan nasional maupun internasional dalam produksi.
Bagaimana dengan individu yang sudah terkontaminasi?cara yang dilakukan melalui sebuah pendekatan baik individu maupun kelompok dan saling berkomunikasi sehingga akan timbul rasa kepercayaan antar sesama,lalu ajarkanlah perilaku positif dari yang paling kecil misalkan melihat latihan sanggar seni,  karang taruna dll.sehingga akan tumbuh rasa kepedulian dari mereka, mari kita sebagai kaum terpelajar selamatkan anak bangsa ini sebelum perilaku menyimpang menghancurkan masa depan bangsa ini.



Bagan ini adalah salah satu gambaran perilaku menyimpang dari masyarakat di indonesia.


















D.    Kesimpulan
Melihat realitas ada di indonesia membuat kaum terdidik seperti: Dosen,Mahasiswa/i,Guru,Aparat Pemerintahan tergugah hatinya untuk mengindarkan anak negeri ini dari perilaku menyimpang. Memang semua ini hukum alam setidaknya kita berusaha meminimalisirnya agar tidak terlalu banyak dampak buruknya. Sehingga dapat mencetak generasi dan bibit-bibit pemimpin yang unggul serta dapat membawa bangsa ini lebih maju dalam berbagai sektor.


























 Daftar Pustaka


Daradjat,zakiah.pembinaanremaja.{Jakarta:Bulan Bintang,1982}hal.116.
G.Myers.David,Psikologi Sosial,(Jakarta Selatan: Salemba Humanika,2012)Edisi.10,hal.331
 Markum,M.enoch,PsikologiSosial,(TanggerangSelatan: Universitas Terbuka.2014) hal.7.24-         7.28
Muin, Idianto. 2013. Sosiologi untuk SMA/MA Kelas X. Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu            Sosial. Jakarta: Erlangga. Hal: 156-172
 Panuju Panut & Umami Ida,Psikologi remaja,(Yogyakarta:Tiara Wacana Yogya,1999) Cet.1. 
 Panuju Panut & Umami Ida,Psikologi remaja,(Yogyakarta:Tiara Wacana Yogya,1999)     Cet.1,hal.163.
Panuju,panut&umami,ida.psikologiremaja{Yogyakarta:TiaraWacana yogya,1999}hal.155-            162.
Sarwono.sarlito,PsikologiRemaja.{Jakarta: Rajawali pers,2013}hal.284.
Suryantodkk,Pengantar Psikologi Sosial,(Surabaya:Pusat Penerbitan & Percetakan            Universitas Airlangga,2012)Cet.1,hal.282


                 [1]Panuju Panut & Umami Ida,Psikologi Remaja,(Yogyakarta:Tiara Wacana Yogya,1999) Cet.1.
                          2http://regional.kompas.com/read/2015/11/18/18373321/Bandar.Narkoba.Menangis.Tersedu-sedu.di.Depan.Penyidik (Caroline Damanik Tribun Pekanbaru)
                          3Panuju Panut & Umami Ida,Psikologi Remaja,(Yogyakarta:Tiara Wacana Yogya,1999) Cet.1,hal.163.



[5]Muin, Idianto. 2013. Sosiologi untuk SMA/MA Kelas X. Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Erlangga. Hal: 156-172
[6]Sarwono.sarlito,Psikologi Remaja.(Jakarta: Rajawali pers,2013)hal.284.
[7]Panuju,panut&umami,ida.Psikologi Remaja(Yogyakarta:TiaraWacana yogya,1999)hal.155-162.
[8]Daradjat,zakiah.Pembinaan Remaja.(Jakarta:Bulan Bintang,1982)hal.116.
[9]G.Myers.David,Psikologi Sosial,(Jakarta Selatan: Salemba Humanika,2012)Edisi.10,hal.331
[10]Suryantodkk,Pengantar Psikologi Sosial,(Surabaya:Pusat Penerbitan & Percetakan Universitas Airlangga,2012)Cet.1,hal.282
[11]Markum,M.enoch,PsikologiSosial,(TanggerangSelatan: Universitas Terbuka.2014) hal.7.24-7.28
[12] http://harunarcom.blogspot.co.id/2013/02/dampak-perilaku-penyimpangan-sosial.html.Diunduh pada hari selasa.08-12-2015.pukul 08.14 WIB.uin sunan kalijaga.