PENANGGULANGAN PERILAKU MENYIMPANG
MENGGUNAKAN METODE PSIKOLOGI
Disusun
oleh: Lailatul Chodriyah(15720011)
Mahasiswa
Prodi Sosiologi
Fakultas
Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
ABSTRAK
Perilaku menyimpang adalah salah satu perilaku yang terjadi dimasyarakat
baik itu dilakukan secara individu ataupun kelompok didalam masyarakat
tersebut. Sebelum membahas mengenai pokok permasalahan dan solusinya,kita harus
faham dulu mengenai arti sebenarnya mengenai masyarakat. Masyarakat adalah sekumpulan
individu yang terbentuk dalam satu kelompok baik itu jumlah kecil maupun jumlah
banyak yang menjalankan sebuah sistem dan akan terbentuk sebuah
norma,nilai,serta adat istiadat. Pokok perilaku menyimpang dari individu atau
masyarakat terbentuk dengan sendirinya dari bagaimana cara mereka bergaul satu
sama lain,dan perilaku semacam ini akan selalu membekas didalam fikiran bawah
sadar utamanya anak-anak dan lama kelamaan akan menjadi kebiasaan anak tersebut
tanpa mereka sadari telah melakukan berulang kali dan menjadi sebuah kebiasaan
buruk. Dalam artikel ini akan membahas beberapa metode menggunakan pendekatan
psikologi sehingga dapat meminimalisir dampak dari tindakan tersebut serta
memberikan pendidikan untuk yang belum terjerumus kedalam lubang yang sama,
sehingga akan tumbuh bibit-bibit pemimpin masa depan yang luar biasa. Nah,
metode psikologi adalah salah satu cara yang sangat tepat untuk diterapkan pada
realitas sekarang ini. Melihat beberapa survey sangat memiriskan hati kecil
ini, melihat beberapa kasus yang terjadi. Semoga dengan munculnya artikel ini
dapat membantu masyarakat untuk meningkatkkan kualitas sumberdayanya.
A.
Latar Belakang
Dizaman
era modern ini banyak sekali orang yang sudah melupakan norma dan melalaikan
apa yang sudah menjadi tradisi dimasyarakat tersebut.Sehingga banyak terjadi
kasus penyimpangan di seluruh negeri ini.Sampai saat ini pun masih juga
terjadi,dan kebanyakan penyimpangan ini dilakukan anak remaja kisaran usia
13/14-17 tahun.Nah,Para ahli berpendapat bahwa perkembangan individu itu
melalui taraf-taraf dan fase/fase tertentu yang mempunyai spesifikasi masing
masing.Masa remaja merupakan masa perkembangan kematangan fisik,kemudian
diikuti masa kematangan emosi dan diakhiri oleh perkembangan intelek[1].
Terlihat jelas dalam fase tersebut
individu sangat mengunggulkan emosi tanpa menggunakan akal fikirannya dan hanya
menuruti nafsu saja.Baru-baru ini telah ditangkap tiga orang di pekan
baru,Sumatra Selatan dengan kasus narkoba[2],Kasus
penganiayaan diwarga binaan di Lapas Kelas IIB Meulaboh dipicu perilaku korban yang dinilai arogan saat mengetuk pintu lapas
dan masih banyak lagi.Maraknya perilaku-perilaku seperti inilah yang menjadikan
penurunan pemuda bangsa baik intelektual maupun moralitasnya.Melihat kemirisan
tersebut penulis akan memberikan cara untuk penanggulangan menurut kacamata
psikologi. Dalam psikologi ada tiga tindakan jitu yang dapat mengurangi
perilaku tersebut diantaranya melalui tindakan preventif,tindakan represif,tindakan
kuratif[3].
Adapun” tindakan prefentif” yakni segala tindakan yang
bertujuan mencegah timbulnya kenakalan-kenakalan. Dalam tindakan ini akan
dilakukan usaha untuk mengenal mengetahui ciri umum dan khas remaja,mengetahui
kesulitan-kesulitan yang secara umum dialami oleh para remaja.Kesulitan manakah
yang biasanya menjadi sebab timbulnya penyaluran dalam bentuk kenakalan.langkah
selanjutnya adalah mengadakan pembinaan,dalam tindakan ini diharapkan para
individu akan mengembangkan diri secara baik sehingga keseimbangan diri akan
dicapai dimana tercipta hubungan yang serasi antara aspek rasio dan aspek
emosi.
”tindakan represif”yakni tindakan untuk menindas dan menahan
kenakalan remaja seringan mungkin atau menghalangi timbulnya peristiwa
kenakalan yang lebih hebat. “tindakan kuratif dan rehabilitasi” yakni
memperbaiki akibat perbuatan nakal,terutama individu yang telah melakukan
perbuatan tersebut.Diharapkan dengan beberapa cara tersebut dapat meminimalisir
maraknya perilaku menyimpang dikalangan masyarakat.
B. KajianTeori
Perilaku menyimpang adalah perilaku yang dinilai
kurang
pantas
berada
didalam
masyarakat
misalnya: tawuran
antar
pelajar, narkotika, minum-minuman
keras, pertikaian, konflik
antar
suku, tindak
kriminal,dll. Perilaku
ini
biasa
terjadi
disemua
lapisan
masyarakat
mulai
dari
remaja,orang
dewasa, orang tua, hingga
terjadi
dikalangan orang berpendidikan .
Menurut Paul B. Horton, penyimpangan
sosial memiliki enak ciri-ciri antara lain sebagai berikut:Pertama,Penyimpangan
harus dapat didefinisikan Tidak ada perbuatan yang terjadi begitu saja dinilai atau dianggap
menyimpang. Perilaku mnyimpang bukanlah hanya dari ciri tindakan yang dilakukan
orang, melainkan akbiat dari adanya peraturan dan penerapan sanksi yang
dilakukan oleh orang lain terhadap perilaku tersebut.Kedua,Penyimpangan bisa diterima atau bisa juga
ditolak.Tidak semua perilaku menyimpang negatif, ada juga yang diterima
bahkan diputih dan dihormati seperti orang genius yang menyampaikan pendapat
baru yang bertentangan dengan pendapat umum. Sedangkan perampokan, pembunuhan,
dan menyebarkan teror bom atau gas beracun termasuk penyimpangan yang ditolak
masyarakat.
Keiga,Penyimpangan relatif dan penyimangan mutlak.Di dalam satu masyarakat tidak ada seorang pun yang termasuk dalam kategori sepenuhnya penurut (konformis) ataupun spenuhnya. Pada dasarnya semua orang normal pasti pernah melakukan tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku, namun terdapat batas-batas tertentu yang bersifat relatif untuk setiap orang. Seperti halnya tidak ada seorang pun yang setiap perbuatannya menyimpan di norma-norma yang berlaku. Perbedaannya ada di seberapa sering (frekuensi) dan kadar penyimpangannya saja. Meskipun ada orang yang sering sekali melakukan penyimpangan sosial (penyimpang mutlak), lambat laun dia juga harus berkompromi dengan lingkungannya.
Keempat,Penyimpangan terhadap budaya nyata atau budaya ideal.Budaya ideal disini adalah seluruh peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok masyarkat. Namun, dari kenyataannya, tidak orang yang patuh dari seluruh peraturan resmi. Antara budaya nyata dan budaya ideal selalu terjadi kesenjangan. Artinya, peraturan yang telah menjadi pengetahuan umum di kehidupan sehari-hari yang cenderung banyak dilanggar.Kelima,Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan sosial.Jika suatu masyarakat terdapat nilai atau norma yang melarang suatu perbuatan ingin sekali diperbuat oleh banyak orang, akan muncul norma-norma pengindaran. Norma pengindaran adalah pola perbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan mereka tanpa hrus dengan menentang nilai-nilai dengan tata kelakuan secara terbuka. Jadi, norma-norma yang sifatnya setengah melembaga(semi institutionalized).
Keenam,Penyimpangan sosial bersifat adaptif (menyesuaikan).Penyimpangan sosial tidak selalu sebagai ancaman karena biasanya dianggap sebagai alat pemelihara ketenangan atau ketentraman sosial. Di satu pihak, masyarakat memerlukan keteraturan dan kepastian dalam kehidupan.
Keiga,Penyimpangan relatif dan penyimangan mutlak.Di dalam satu masyarakat tidak ada seorang pun yang termasuk dalam kategori sepenuhnya penurut (konformis) ataupun spenuhnya. Pada dasarnya semua orang normal pasti pernah melakukan tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku, namun terdapat batas-batas tertentu yang bersifat relatif untuk setiap orang. Seperti halnya tidak ada seorang pun yang setiap perbuatannya menyimpan di norma-norma yang berlaku. Perbedaannya ada di seberapa sering (frekuensi) dan kadar penyimpangannya saja. Meskipun ada orang yang sering sekali melakukan penyimpangan sosial (penyimpang mutlak), lambat laun dia juga harus berkompromi dengan lingkungannya.
Keempat,Penyimpangan terhadap budaya nyata atau budaya ideal.Budaya ideal disini adalah seluruh peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok masyarkat. Namun, dari kenyataannya, tidak orang yang patuh dari seluruh peraturan resmi. Antara budaya nyata dan budaya ideal selalu terjadi kesenjangan. Artinya, peraturan yang telah menjadi pengetahuan umum di kehidupan sehari-hari yang cenderung banyak dilanggar.Kelima,Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan sosial.Jika suatu masyarakat terdapat nilai atau norma yang melarang suatu perbuatan ingin sekali diperbuat oleh banyak orang, akan muncul norma-norma pengindaran. Norma pengindaran adalah pola perbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan mereka tanpa hrus dengan menentang nilai-nilai dengan tata kelakuan secara terbuka. Jadi, norma-norma yang sifatnya setengah melembaga(semi institutionalized).
Keenam,Penyimpangan sosial bersifat adaptif (menyesuaikan).Penyimpangan sosial tidak selalu sebagai ancaman karena biasanya dianggap sebagai alat pemelihara ketenangan atau ketentraman sosial. Di satu pihak, masyarakat memerlukan keteraturan dan kepastian dalam kehidupan.
Menurut
survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2012, bahwa persentase penduduk
provinsi NTT berumur 10 tahun ke atas menurut jenis kelamin dan ijazah
tertinggi yang dimiliki dapat kita lihat sesuai tabel berikut.
Dari sample ini dapat
disimpulkan bahwa masih rendah pendidikan yang ada di indonesia utamanya daerah
bagian timur sehingga banyak terjadi perilaku menyimpang. Dari tingkat
pendidikan kita dapat membaca perilaku menyimpang yang terjadi.
Jenis-Jenis Penyimpangan
Sosial/Perilaku Menyimpang:
- Jenis-Jenis Penyimpangan Sosial Berdasarkan Kekerapananya
Penyimpangan
Sosial Primer: Pengertian
penyimpangan sosial primer adalah penyimpangan yang bersifat sementara
(temporer). Orang yang melakukannya masih tetap dapat diterima oleh kelompok
sosialnya karena tidak terus menerus melanggar aturan. Seperti biasanya
melanggar rambu lalu lintas atau pernah meminum minuman keras di suatu
pesta.
Penyimapangan
Sosial Sekunder: Pengertian
penyimpangan sosial sekunder adalah penyimpangan sosial yang dilakukan oleh
pelakunya secara terus menerus walaupuntelah diberikan sanksi-sanksi. Oleh
karena itu, setiap pelaku secara umum dikenal sebagai orang yang berperilaku
menyimpang. Seperti, seseorang yang setiap hari minum minuman keras, siswa
SMA/MA yang terus menyontek teman kelasnya.
b.
Jenis-Jenis Penyimpangan Sosial Berdasarkan Jumlah Orang Yang Terlibat
Penyimpangan
Individu: Pengertian
penyimpangan individu adalah penyimpangan yang dilakukan sendiri tanpa dengan
orang lain. Hanya satu individu saja yang melakukan belawanan dengan
norma-norma yang berlaku.Penyimpangan
Kelompok: Pengertian penyimpangan kelompok adalah penyimpangan yang terjadi
jika individu perilaku menyimpang tersebut dilakukan secara bersama-sama di
suatu kelompok tertentu.
c.
Jenis-Jenis Penyimpangan Sosial Berdasarkan Sifatnya
Penyimpangan
Bersifat Negatif: Pengertian
penyimpangan bersifat negatif adalah penyimpangan sosial yang berwujud dari
tindakan ke arah nilai-nilai sosial yang dianggap rendah dan tercela karena
tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku.Penyimpangan Bersifat Positif: Pengertian penyimpangan
bersifat positif adalah penyimpangan sosial yang memiliki dampak positif
terhadap sistem sosial karena dianggap ideal dalam masyarakat.
Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Menyimpang
Faktor Internal: Penyebab perilaku menyimpang dalam faktor internal adalah intelegensi atau tingkat kecerdasan, usia, jenis kelamin dan kedudukan seseorang dalam keluarga. Contohnya: seseorang ang tidak normal dan pertambahan usia.Faktor Eksternal: Penyebab perilaku menyimpang dalam faktor eksternal adalah kehidupan rumah tangga, atau keluarga, pendidikan di sekolah, pergaulan dan media massa. Contohnya: seorang anak yang biasa melihat orang tuanya bertengkar dapat melarikan diri pada obat-obatan, atau narkoba. Pergaulan individu yang berhubungan dengan teman-temannya, media massa, media cetak, media eletkronik.
Pencegahan dalam terjadi perilaku
penyimpangan sosial dilakukan seseorang agar tidak berada dalam penyimpangan sosial yang lebih
merugikan atau bersifat negatif. Faktor-faktor pencegahan dalam perilaku
penyimpangan sosial adalah sebagai berikut:
Faktor
Keluarga: Pencegahan penyimpangan
sosial dalam faktor keluarga adalah merupakan awal dari proses sosialisasi
dalam pembentukan kepribadian seseorang. Kepribadian seseorang mulai terbentuk
dengan baik jika lahir dan tumbuh berkembang dengan lingkungan keluarga yang
baik, begitu juga dengan sebaliknya.Faktor
Sekolah: Pencegahan penyimpangan sosial dalam faktor sekolah adalah
tempat menimba ilmu yang memberikan pendidikan moral selain dari pendidikan
umum. Faktor Lingkungan dan Teman:
Pencegahan penyimpangan sosial dalam faktor lingkungan dan teman adalah
tempat yang sangat mempengaruhi watak seseorang karna dalam pergaulan seseorang
dituntut agar dapat berdaptasi/menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat
tinggal dan temannya. Faktor Media
Massa: Pencegahan penyimpangan sosial dalam faktor media massa
adalah suatu wadah sosialisasi yang mempengaruhi kehidupan seseorang. Maka
setiap orang harus dapat memilah media massa yang berisi informasi yang baik
dan bersifat positif untuk terhindari dari penyimpangan sosial[5].
Penanganan
perilaku
menyimpang
menggunakan
tindakan
psikologi
sangat
banyak.
Seperti yang diungkapkan
Rogers{Adams & Gullota,983:
56-57} ada lima ketentuan yang harus dipenuhi untuk membantu remaja yaitu: kepercayaan,kemurnianhati,kemampuan
mengerti&menghayati,kejujuran,mengutamakan
presepsi
remaja
sendiri[6].
Selain
itu
juga
perlu
dilakukan
pembimbingan
terhadap
remaja
diantaranya:
Melaksanakan
pendidikan agama dan
pembinaan
akhlaq,Meningkatkan pengertian remaja akan dirinya,Menciptakan hubungan baik dengan orang tua,Bimbingan kearah hari depan yang lebih
baik,Bimbingan hidup masyarakat[7]. Disamping perhatiannya terhadap
masalah sosial, ekonomi dan politik dalam Negara juga meningkat, karena kemampuan nya untuk berfikir
logis-rasionil telah matang, pelajaran yang didapatnya di sekolah sudah cukup
kuat untuk mendorongnya kepada lebih memperhatikan apa saja yang terjadi dalam
masyarakat[8].
Adapun pendekatan psikologi yang digunanakan
dalam
treatmen
adalah
perubahan
dalam
perilaku
eksternal
dapat
memicu
perubahan
internal.
Suatu
lingkaran
pengalahan
dari
pada
sikap-sikap
dan
perilaku negative dapat
dihilangkan
dengan
pelatihan yang lebih
menekankan
pada
perilaku yang penuh
keterampilan,
dengan
pengalaman
positif yang menggantikan
presepsi
diri
dan
mengubah
pola
pikiran
negatif.
Peningkatan
kondisi
terpelihara
dengan
baik
setelah
treatmen
jika orang mengatribusikan
peningkatan
mereka
pada
faktor-faktor internal dibawah
pengenendalian yang berkelanjutan
daripada
hanya
pada program treatmen
itu
sendiri.
Para
pekerja
kesehatan mental juga
mendasarkan
perubahan
sikap
dan
perilaku
klien
dengan
persuasi. Para terapis
membantu
untuk
menstimulasi
pemikiran yang lebih
sehat
dengan
menawarkan argument-argumen
persuasive yang rasional dan memunculkan pertanyaan[9]. Social facilitation tidak
hanya
bersifat
sosial,namun
pada
makhluk non sosial pun dapat
terjadi, karena
kehadiran orang lain secara
tidak
langsung
akan
memengarui
perfoma. Namun
menurut
hasil
penelitian
lain, mengatakan
bahwa
efek social facilitation hanya
akan
muncul
jika
seseorang
hadir
tersebut
memiliki
karakteristik
tertentu.
Terdapat dua variasi dari konsep Zajonc,yaitu:
1.
Evaluation
apprehension
Menurut
perspektif
ini, peningkatan
atau
pun
penurunan
pereforma
dapat
terjadi
jika
kehadiran
seseorang
berfungsi
untuk
melakukan
evaluasi
terhadap
performa
tersebut.
Ketika seseorang bekerja sendiri dibandingkan dengan orang lain yang bekerja
dibawah pengawasan,ternyata seseorang yang bekerja dibawah pengawasan cenderung
menunjukkan respons dominan.Namun apabila pengawas tersebut blindfolded, maka
frekuensi kecenderungan untuk menunjukkan respon dominan mirip ketika seorang
bekerja sendiri.
2.
Distraction
Pendekatan
lain
dalam
melihat social facilitation adalah
melalui distraction conflict theory.
Teori ini memandang bahwa kita cenderung memandang bahwa kita mengalami distraksi atau pun terganggu
ketika
sedang
menyelesaikan
tugas-tugas yang membutuhkan
banyak
konsentrasi
(Baron,1986). Perhatian
kita
terpecah
antara
tugas yang sedang
dilakukan
dengan
pendekatan
lain yang mengganggu. Konflik
dalam
membagi
perhatian
ini
menyebabkan
kesiagaan
kita
meningkat.Teori
ini
menyatakan
bahwa social facilitation tidak
selalu
bersifat
sosial[10].
Konflik
apapun
bentuk
dan
sumbernya,
memerlukan
penanganan yang tepat.
Adapun
menangani
konflik
antar
kelompok
adalah”
1.
Solusi
Struktural
Konflik
yang muncul karena dilemma social
memerlukan
solusi
structural
termasuk
pembatasan
penggunaan
sumberdaya yang menjadi
sumber
konflik
dengan
menggunakan
surat/kartu
”izinguna”,
membatasi
jumlah yang dapat
digunakan,
dengan
menentukan
kuota.
Atau dengan menunjuk individu atau kelompok tertentu sebagai pengelola sumber daya, yang berfungsi
memfasilitasi
komunikasi
antara
kelompok-kelompok yang bertikai.
Individu/kelompok
akan
menentukan
hak
guna
lebih
besar
apabila
kelompok
bersedia
untuk
bekerjasama, dibandingkan
dengan
apabila
mereka
bertikai.
2.
Mengurangi
frustasi
Meskipun
frustasi
tidak
selalu
mengakibatkan
tindak
kekerasan, namun
ada
dua
kondisi yang mendorong
individu
menjadi
agresif,yakni
apabila
individu
mengalami
keadaan
frustasi
luar
biasa (Haris,1974 dalam Baron &
Byron 1977) dan penyebab frustasi tidak masuk akal (Wavekel 1974;Zillman & Carter,1976 dalam
Baron & Byron 1977). Ini
berarti, segala
kebijakan, perlakuan,dan
tindakan yang dapat
berdampak
pada
ketidakadilan yang selanjutnya
akan
memicu
frustasi
harus
dihindari.
3.
Menciptakan
tujuan
luhur
Sumber
utama
konflik
antar
kelompok, menurut
teori
ini
adalah
masalah
keterbatasan
sumber, khususnya yang berkenaan
dengan
nilai(value)
dan
kekuasaan
(power).
Solusi yang ditawarkan
oleh
teori
ini
menciptakan
sasaran
bersama yang menuntut
kerjasama
atau
mengandung
unsur
saling
ketergantungan di antara
pihak
bertikai(super-ordinate goal).
4.
Mencairkan
polarisasi in group-out group
Sebagaimana
telah
dikemukakan,sumber
konflik
antar
kelompok
menurut
teori
identitas
social
bukan
memperebutkan
sumber
(resources)
melainkan
berkenaan
dengan
identitas
social
kelompok. Solusi yang ditawar
adalah
mencairkan
polarisasi
in group out group.
Dalam
hal
ini, pendapat
hasan (1999) mengenai modus kebersamaan
kita
dan kami dapat
dijadikan
jalan
keluar
dalam
upaya
mencairkan
gejala
in group out group.
5.
Mengurangi
orientasi
dominan
Konflik
antar
kelompok
terjadi
karena
ada
orientasi
dominan
dari para pemimpin
kelompok
dan
kelembagaan
dominasi yang disahkan.
Oleh
karenanya
pendidikan
dirumah
ada
disekolah
hendaknya ,mencegah terbentuknya authoritarian
personality
(Adorno,dkk.1955).
6.
Kontak
antar
kelompok
Konflik
antar
kelompok
terjadi
karena
adanya
sikap
streotipib
terhadap
kelompok
luar negative.
Sikap
seperti
ini
ada
dan
tersebar
dalam
berbagai
macam ideology sosial,
serta
dipertahankan
karena
kurangnya
akses
terhadap
informasi yang dapat
menyanggah
akses
tersebut.
7.
Kesamaan
Prasangka
muncul
karena
ketidaktahunan
dan
anggapan
bahwa
terdapat
perbedaan
antara
kelompok yang tidak
akan
pernah
dapat
menjembatani. Kontak
antar
kelompok
dapat
menunjukkan
bahwa
ternyata
terdapat
kesamaan di antara
dua
kelompok.
8.
Generalisasi
Metode
lain dikemukakan oleh Wberdan Crocker (1983,
dalamVaugh& Hogg,2000).
Menurut
mereka, kontak
antara
individu yang berbeda
kelompok
bertujuan
untuk
memperbaiki
hubungan
antar
kelompok
secara
keseluruhan,tidak
hanya
antara
individu yang bertemu. Terdapat
tiga model yang dapat
menjelaskan
bagaimana
ini
dapat
terjadi.
Pertama,
bookkeeping, mengumpulkan semua informasi positif mengenai kelompok luar,sehingga secara perlahan-lahan
akan
dapat
memperbaiki
streotopi. Kedua, conversion, informasi
yang sangat berlawanan dengan streotopi yang berlaku
dapat
mengubah
sikap
secara
tiba-tiba. Ketiga, subtyping, informasi yang tidak
konsisten
dengan
streotopi
dapat
menghasilkan sub-streotipi,
sehingga
stereotopi
menjadi
lebih
kompleks.
9.
Pluralisme
dan
keberagaman
Pada
dasar
nya
suatu
kelompok
terdiri
berbagai
macam sub kelompok. Konflik
muncul
ketika
sebagian,
atau
satu
kelompok,tertentu
mendapatkan
perhatian yang lebih
sehingga, kelompok lain merasa
sebagai
bawahan
dari
kelompok
tersebut.
10.
Komunikasi
Kelompok
yang bertikai dapat memperbaiki hubungan dengan cara mengkomunikasi
secara
langsung
masalah yang terjadi
dan
upaya
untuk
menyelesaikannya. Dengan kata lain,
kelompok yang bertikai dapat melakukan tawar-menawar,mediasi,arbitrasi,dankonsiliasi.
11.
Tawar-menawar
Negosiasi
antar
kelompok
biasanya
dilakukan
antar
perwakilan
dari
masing-masing
kelompok. Misalnya,
perwakilan
demonstran
dengan
perwakilan
pemerintah. Penelitian
menunjukkan
bahwa, ketika
individu
melakukan
negoisasi
sebagai wakil dari
kelompok,
maka
ia
akan
menawar
lebih
keras
dan
lebih
sulit
untuk
mengalah
dibandingkan
apabila
ia
hanya
mewakili
dirinya
sendiri. Hal
ini
menyulitkan
negosiasi.
cara yang lebih
efektif
adalah
dengan
saling
mengajukan
konsesi[11].
Berbagai
bentuk perilaku menyimpang yang ada di masyarakat akan membawa dampak bagi pelaku maupun bagi
kehidupan masyarakat pada umumnya.
Berbagai bentuk perilaku menyimpang yang
dilakukan oleh seorang individu akan memberikan
dampak bagi si pelaku. Berikut ini beberapa dampak tersebut.
a. Memberikan
pengaruh psikologis atau penderitaan kejiwaan serta
tekanan mental terhadap pelaku karena akan dikucilkan dari kehidupan masyarakat
atau dijauhi dari pergaulan.
b. Dapat
menghancurkan masa depan pelaku penyimpangan.
c. Dapat
menjauhkan pelaku dari Tuhan dan dekat dengan perbuatan dosa.
d. Perbuatan
yang dilakukan dapat mencelakakan dirinya sendiri.
Perilaku penyimpangan juga membawa
dampak bagi orang lain atau kehidupan masyarakat pada umumnya. Beberapa di
antaranya adalah meliputi hal-hal berikut ini.
b. Merusak
tatanan nilai, norma, dan berbagai pranata sosial yang berlaku di masyarakat.
c. Menimbulkan
beban sosial, psikologis, dan ekonomi bagi keluarga pelaku.
d. Merusak
unsur-unsur budaya dan unsur-unsur lain yang mengatur perilaku individu dalam
kehidupan masyarakat.
Dampak positif yang
ditimbulkan akibat perilaku penyimpangan sosial
Menurut
pandangan umum, perilaku menyimpang dianggap merugikan masyarakat baik terhadap
pelaku maupun terhadap orang lain pada umumnya adalah bersifat negatif.
Akan tetapi, menurut
Emile Durkheim, perilaku menyimpang juga memiliki kontribusi positif bagi
kehidupan masyarakat.
Beberapa
kontribusi penting dari perilaku menyimpang yang bersifat positif bagi
masyarakat meliputi hal-hal berikut ini.
a. Perilaku
menyimpang memperkokoh nilai-nilai dan norma dalam masyarakat.
Bahwa setiap
perbuatan baik merupakan lawan dari perbuatan yang tidak baik. Dapat dikatakan
bahwa tidak akan ada kebaikan tanpa ada ketidak-baikan. Oleh karena itu
perilaku penyimpangan diperlukan untuk semakin menguatkan moral masyarakat.
b. Tanggapan
terhadap perilaku menyimpang akan memperjelas batas moral.
Dengan
dikatakan seseorang berperilaku menyimpang, berarti masyarakat mengetahui
kejelasan mengenai apa yang dianggap benar dan apa yang dianggap salah.
c. Tanggapan
terhadap perilaku menyimpang akan menumbuhkan kesatuan masyarakat.
Setiap ada
perilaku penyimpangan masyarakat pada umumnya secara bersama-sama akan menindak
para pelaku penyimpangan. Hal tersebut menegaskan bahwa ikatan moral akan
mempersatukan masyarakat.
d. Perilaku
menyimpang mendorong terjadinya perubahan sosial.
Para pelaku
penyimpangan senantiasa menekan batas moral masyarakat, berusaha memberikan
alternatif baru terhadap kondisi masyarakat dan mendorong berlangsungnya
perubahan[12].
C.
Pembahasan
Mengapa sih perilaku menyimpang masih
banyak terjadi dinegeri ini? Pertanyaan ini sudah tidak asing lagi ditelinga
kita. Jawaban yang paling tepat dan akurat ada didalam diri kita masing-masing.
Karena diri kita yang bisa membatasi bagaimana bergaul dan bersosialisasi di
masyarakat.
Seungguhnya
perilaku sosial adalah tingkah laku individu atau sebagian kelompok yang
dianggap kurang berkenan dimasyarakat. Faktor-faktor yang melatar belakangi
terjadinya perilaku sosial diantaranya: pendidikan,proses sosialisasi
individu,broken home,salah pergaulan dll. Dari faktor ini baik individu maupun
masyarakat harus banyak berkaca dan menilai diri sendiri.faktor pendidikan yang
rendah menambah data jumlah pelaku sosialsemakin besar,sebab individu akan
menjadi maf’ul(pelaku)dari pada fail(yang mengorganisir)serta lebih mudah
dipengaruhi dengan iming-iming uang atau pekerjaan.
Realitas yang terjadi anak terpelajar adalah banyak
mengonsumsinarkoba,bergabung dengan geng motor,tawuran,pacaran dll. Hal ini
disebabkan individu tersebut salah pergaulan sehingga mereka terlalu cepat
dalam mengambil keputusan yang sebelumnya belum mereka ketahui sama sekali.
Minimnya pengetahuan menjadikan sumber daya manusia dinegeri ini menjadi rendah
dan kualitas sangat dipertanyakan? Meskipun diluar sana masih banyak orang
berpendidikan mempunyai pengetahuan yang luas.
Permasalahan tidak hanya berhenti disini ditambah lagi
dengan deretan keluarga yang broken home, kasus semacam ini dampaknya akan
sangat jelas mengarah ke anak baik usia dini,remaja maupun dewasa. Apalagi
sangat berbahaya bagi anak usia dini sebab awalnya mereka hanya memperhatikan
dan merekam di dalam memorinya dan ketika dewasa ia akan condong melakukan
hal-hal yang pernah ia lihat dulu dan beranggapan bahwa apa yang kedua orang
tuanya lakukan adalah benar. Perlu diketahui keluarga adalah agen sosialisasi
yang paling penting dimana pembentukan karekter,norma,nilai secara langsung
atau tidak akan terbentuk dengan sendirinya. Didalam keluarga kita banyak
diajarkan baik agama,cara bersosialisasi,adab,sopan santun,etika dll. Mengapa
perlu dikenalkan sebuah agama? Sebab dalam agama sudah mengajarkan perilaku
yang terpuji dan kita dapat melihat batasan-batasan dalam pergaulan selain itu
akan terbentuk karakter yang agamis.
Sosialisasi tidak hanya dikeluarga saja,Namun kita
sebagai makhluk sosial juga harus punya banyak teman karena kita tidak bisa
hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Teman ini didapatkan ketika kita
mengenyam pendidikan,organisasi,kegiatan masyarakat dll. Dari proses
sosialisasi diluar keluarga akan timbul noma,nilai yang baru sehingga membuat
individu harus beradaptasi lagi sesuai apa yang ada dalam realitas sehingga
individu akan dituntut untuk lebih mandiri.
Perlu diketahui alloh menurunkan sebuah permasalahan
tidak akan melebihi batas kemampuan makhluknya. Perilaku menyimpang dapat
diminimalisir sejak dini sebelum memperbanyak daftar akumulasi. Caranya mulai
dari lingkup kecil atau keluarga harus memberikan contoh yang baik dan
pengajaran untuk anak-anak setelah masa remaja orang tua harus lebih ekstra
memberikan pengawasan pada anak dan orang tua menjadi seorang fasilitator untuk
anaknya. Sehingga anak akan merasa nyaman dan mendapatkan sebuah kepercayaan
atau amanat yang telah diberikan kedua orang tuanya.
Peran pendidikan dalam meminimalisir perilaku
menyimpangdengan memberikan pengajaran serta aktifitas-aktifitas positif yang
bisa diikuti oleh individu tersebut.diantaranya ekstra kurikuler sekolah
diantaranya: OSIS, Pramuka,Pmr,Paskibraka,Hadroh,Tilawah,Jurnalistik dll.
Harapanya individu dapat mengmbangkan bakat yang sudah dimiliki dan sebagai
bekal untuk kehidupan nantunya. Manfaatnya individu akan tertarik dengan
hal-hal yang positif begitu pula tempat bersosialisasinya juga positif sehingga
individu akan cenderung bersikap positif pula. Dan sebaliknya jika individu
bergabung dalam hal-hal yang negatif maka perilakunya akan dipengarui hal-hal
negatif.
Lingkungan juga sangat menentukan perilaku anak
tergantung dimana ia berada dan dapat menempatkan dirinya. Seperti halnya
dimasyarakat sekarang sudah ada lembada swadaya masyarakat(LSM),Karang Taruna,
yang pada dasarnya mempunyai tujuan dan manfaat yang sama.
Didalam lembahga ini menguji konsistensi dari
individu,sehingga individu dapat memberikan kontribusi untuk masyarakat dan
lingkungan nya. Bagaimana caranya? Individu diajari untuk selalu berfikir
kreatif,inovatif, sehingga mampu bersaing dilingkungan maupun diluar
lingkungan. Kegiatan ini juga akan meminimalisir perilaku sosial dan dapat
mencetak sumber daya manusia yang unggul,kreatif,inovatif dan berdaya saing
tinggi. Sehingga tidak takut lagi dalam menghadapi persaingan nasional maupun
internasional dalam produksi.
Bagaimana dengan individu yang sudah
terkontaminasi?cara yang dilakukan melalui sebuah pendekatan baik individu
maupun kelompok dan saling berkomunikasi sehingga akan timbul rasa kepercayaan
antar sesama,lalu ajarkanlah perilaku positif dari yang paling kecil misalkan
melihat latihan sanggar seni, karang
taruna dll.sehingga akan tumbuh rasa kepedulian dari mereka, mari kita sebagai
kaum terpelajar selamatkan anak bangsa ini sebelum perilaku menyimpang menghancurkan
masa depan bangsa ini.
Bagan ini adalah salah satu gambaran perilaku
menyimpang dari masyarakat di indonesia.

D.
Kesimpulan
Melihat
realitas ada di indonesia membuat kaum terdidik seperti:
Dosen,Mahasiswa/i,Guru,Aparat Pemerintahan tergugah hatinya untuk mengindarkan
anak negeri ini dari perilaku menyimpang. Memang semua ini hukum alam setidaknya
kita berusaha meminimalisirnya agar tidak terlalu banyak dampak buruknya.
Sehingga dapat mencetak generasi dan bibit-bibit pemimpin yang unggul serta
dapat membawa bangsa ini lebih maju dalam berbagai sektor.
Daftar Pustaka
Daradjat,zakiah.pembinaanremaja.{Jakarta:Bulan
Bintang,1982}hal.116.
G.Myers.David,Psikologi
Sosial,(Jakarta Selatan: Salemba Humanika,2012)Edisi.10,hal.331
http://harunarcom.blogspot.co.id/2013/02/dampak-perilaku-penyimpangan- sosial.html.Diunduh pada hari selasa.08-12-2015.pukul
08.14 WIB.uin sunan
kalijaga.
http://m.suryantt.com/suryantt-news-428-mengedepankan-daya-tangkal-dan-cegah-dalam- penanggulangan-tindak-kekerasan-tanpa-mengabaikan-penegakan-hukum.html#.Vmggbn072l4.Diunduh
pada hari rabu.09-12-2015.pukul 20.00 WIB.motionet.Diposting oleh : Herry Battile.
Markum,M.enoch,PsikologiSosial,(TanggerangSelatan: Universitas Terbuka.2014)
hal.7.24- 7.28
Muin, Idianto. 2013. Sosiologi untuk SMA/MA Kelas X. Kelompok
Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta:
Erlangga. Hal: 156-172
Panuju Panut & Umami Ida,Psikologi remaja,(Yogyakarta:Tiara Wacana Yogya,1999) Cet.1.
Panuju Panut & Umami Ida,Psikologi remaja,(Yogyakarta:Tiara Wacana Yogya,1999) Cet.1,hal.163.
Panuju,panut&umami,ida.psikologiremaja{Yogyakarta:TiaraWacana
yogya,1999}hal.155- 162.
http://regional.kompas.com/read/2015/11/18/18373321/Bandar.Narkoba.Menangis.Tersedu- sedu.di.Depan.Penyidik (Caroline
Damanik Tribun Pekanbaru)
Sarwono.sarlito,PsikologiRemaja.{Jakarta: Rajawali
pers,2013}hal.284.
Suryantodkk,Pengantar
Psikologi Sosial,(Surabaya:Pusat Penerbitan & Percetakan Universitas Airlangga,2012)Cet.1,hal.282
2http://regional.kompas.com/read/2015/11/18/18373321/Bandar.Narkoba.Menangis.Tersedu-sedu.di.Depan.Penyidik (Caroline
Damanik Tribun Pekanbaru)
3Panuju Panut & Umami Ida,Psikologi Remaja,(Yogyakarta:Tiara
Wacana Yogya,1999) Cet.1,hal.163.
[4]
http://m.suryantt.com/suryantt-news-428-mengedepankan-daya-tangkal-dan-cegah-dalam-penanggulangan-tindak-kekerasan-tanpa-mengabaikan-penegakan-hukum.html#.Vmggbn072l4.Diunduh pada hari
rabu.09-12-2015.pukul 20.00 WIB.motionet.Diposting oleh : Herry Battile.
[5]Muin, Idianto. 2013. Sosiologi untuk
SMA/MA Kelas X. Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta:
Erlangga. Hal: 156-172
[6]Sarwono.sarlito,Psikologi
Remaja.(Jakarta: Rajawali pers,2013)hal.284.
[7]Panuju,panut&umami,ida.Psikologi
Remaja(Yogyakarta:TiaraWacana yogya,1999)hal.155-162.
[8]Daradjat,zakiah.Pembinaan Remaja.(Jakarta:Bulan
Bintang,1982)hal.116.
[9]G.Myers.David,Psikologi Sosial,(Jakarta Selatan: Salemba
Humanika,2012)Edisi.10,hal.331
[10]Suryantodkk,Pengantar Psikologi Sosial,(Surabaya:Pusat
Penerbitan & Percetakan Universitas Airlangga,2012)Cet.1,hal.282
[12]
http://harunarcom.blogspot.co.id/2013/02/dampak-perilaku-penyimpangan-sosial.html.Diunduh pada hari selasa.08-12-2015.pukul 08.14 WIB.uin sunan kalijaga.
